Sabtu, 05 September 2009

Sentra Industri Gerabah Kasongan, Bantul, DIY (1)

Berusaha Untuk Bangkit Kembali

Sentra industri gerabah Kasongan Bantul sempat mengalami masa paling terpuruk, manakala gempa besar meluluhlantahkan seluruh sentra ini. Pasca gempa, tak ada aktivitas sekecil pun dapat dilakukan oleh para pengrajin gerabah. Butuh waktu sekurangnya satu tahun untuk dapat memulihkan kondisi kembali normal. Setelah kurun waktu tiga tahun ini, energi kebangkitan industri gerabah kembali tampak. Pengrajin mulai kebanjiran pesan dari berbagai daerah maupun pasar ekspor. Bahkan jumlah transaksi usaha gerabah tahun ini telah melampaui pencampaian sebelum gempa.

TANGGAL 27 Mei 2006, tanah Kasongan, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul luluh lantah rata dengan bumi. Gempa berkekuatan 5,9 skala richter benar-benar menghancurkan seluruh sentra gerabah paling besar di Yogyakarta. Ibarat jarum jam berhenti berputar, denyut nadi kehidupan warga Kasongan yang bertumpu pada kerajinan gerabah seolah terhenti.

"Semua bener-bener hancur, gerabah saya semua pecah trus tungku pembakaran juga rusak. Otomatis kita tidak bisa bikin gerabah. Ini lebih beruntung karena rumah tidak rusak parah, tapi bayangkan yang rumahnya turut rusak," papar Pairan, pemilik Pairan Ceramics.

Tidak lebih butuh waktu hampir satu tahun lamanya, kondisi Kasongan dapat kembali pulih seperti semula. Semua ini tentunya tidak lepas dari peran lembaga swadaya masyarakat yang ikut membantu membangun kembali Kasongan.

Diakui oleh Ngadiyana, ketua Kasongan Usaha Bersama bahwa pasca gempa 2006 aliran dana bantuan begit banyak datang ke Kasongan. Meski demikian tidak semuanya bantuan tersebut tepat sasaran sesuai kebutuhan warga yang rata-rata berprofesi sebagai pengrajin gerabah.

Meski demikian beberapa bantuan sesauai dengan harapan warga yakni seperti pembangunan bengkel kerja gerabah, bantuan bahan baku siap pakai selama satu tahun, dan perbaikan jalan sepanjang 1000 mx 3 m. "Selain itu juga dibantu pembuaan triple blower untuk pengering senilai Rp 60 juta," papar Ngadiyana.

Tidak mengherankan jika geliat industri gerabah mulai terasa hangat di sepanjang jalan desa yang jaraknya sekitar 8 km ke arah barat daya dari pusat Kota Yogyakarta atau sekitar 15-20 menit berkendaran dari pusat kota. Kendaraan-kendaran pribadi maupun wisata tampak hilir mudik disepanjang jalan dusun.

Gapura selamat datang di pintu masuk jalan dusun akan menyambut siapa saja yang berkunjung ke sentra kerajinan berbahan baku tanah liat atau lempung ini. Kios-kios gerabah dengan aneka kerajinan gerabah berjejer rapi disepanjang jalan desa memamerkan segala jenis gerabah.

Seperti kepala binatang, motif binatang, vas bunga, pot, meja kursi, dan sebagainya. "Padahal dulu itu warga sini cuma bisa bikin gerabah khusus keperluan rumah tangga seperti kendi (wadah air minum), kendil (wadah untuk memasak), gentong (wadah air), anglo (kompor – tempat pembakaran dengan bahan bakar arang untuk memasak)," papar Pairan.

Transaksi bisnis gerabah Kasongan pada 2009 bahkan telah melampaui pencapaian sebelum gempa. Jika pada 2006 transaksinya sebesar Rp 7,426 miliar, maka pada 2009 nilai produksinya mencapai Rp 8,053 miliar. Negara-negara seperti Australia, Belanda, Swis, Kanada, Selandia Baru, Jepang, Jerman, Belgia, dan Malaysia dikenal sebagai pasar gerabah Kasongan ini

Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul mencatat, pada 2009 unit usaha kerajinan gerabah Kasongan jumlahnya telah mencapai 441 unit, melebihi jumlah sebelum gempa yang sebanyak 401 unit.

Gempa atau lindu memang telah meluluh lantahkan bumi Kasongan, namun hal itu tidak meluluhkan semangat warga Kasongan. Gerabah mempunyai nilai sendiri bagi masyarakat setempat dengan sejarah yang panjang mengikutinya. Sejak 1675, saat Kyai Song, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro, untuk pertama kali mengembangkan pembuatan tembikar untuk perkakas dapur. "Nama Kasongan itu diambil dari nama Kyai Song," papar Ngadiyana.

Tradisi membuat gerabah diteruskan oleh generasi Mbah Jembuh yang pada 1875-1885 mengembangkan gerabah untuk hiasan dinding dan celengan, dengan mengambil bentuk kepala binatang dan buah-buahan. Pada 1825, Mbah Rono dan Mbah Giyah juga mengembangkan anglo.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Sentra Budidaya Ikan Hias, Ciganjur (1)

Pusat Pemasok Ikan Hias Wilayah Jabodetabek

Komplesk perikanan DKI, Ciganjur sejak lama sudah dikenal sebagai pusatnya budidaya ikan hias untuk wilayah Jakarta khususnya untuk ikan mas koki, mainfish, dan cupang. Sekurangnya ada 33 petani yang membudidayakan ikan hias di wilayah ini. Tidak mengherankan jika kawasan ini kemudian menjadi referensi pembeli dalam memburu ikan hias. Sejumlah pedagang ikan hias dari sejumlah pasar ikan Jakarta, juga menjadikan kawasan ini menjadi tempat sentra pemasok kebutuhan ikan hias warga Jakarta.


TEPAT di penghujung jalan MOhammad Al Kahfi, Ciganjur, Jakarta Selatan. Ada sebuah kawasan komplek pemukiman yang lain dengan komplek yang secara yang ada disekitarnya. Depan pintu masuk komplek, papan nama besar bertuliskan Dinas Pertenakan Perikanan dan Kelautan Upt Balai Budi Daya Perikanan Pemda DKI akan menyambut siapa saja yang masuk kawasan ini.

Sesuai dengan tulisan di pintu gerbang, komplek pemukiman yang kemudian lebih dikenal dengan nama Komplek Perikanan DKI ini. Tidak lain merupakan pusat pembudidayaan ikan untuk wilayaj DKI Jakarta.

Oleh sebab itu, ketika masuk komplek perikanan ini bukan rumah-rumah warga yang memadati setiap jengkal lahan. Justru, kolam-kolam ikan dengan beragam jenis ikan di dalamnya. "Satu warga memiliki paling sedikit ada lima kolam," jelas Pak Soheh salah satu warga Komplek.

Keberadaan komplek perikanan DKI di Ciganjur ini, tidak lepas dari peran gubernur DKI era ALi Sadikin. Dibangun sekitar tahun 1977, yang secara khusus diperuntukan untuk menampung sejumlah petani ikan asal daerah Kuningan, Jakarta Pusat.

"Warga komplek sini semuanya warga yang kena gusur di Kuningan. Kebetulan dulu daerah kuningan banyak warga yang jadi petani ikan, selain itu juga sapi yang juga ikut digusur," jelas Pak Soheh.

Menempati lahan sekitar 10 hektar, tidak kurang ada 33 petani pindahan dari daerah Kuningan yang kemudian menetap dan tinggal di komplek perikanan DKI Ciganjur. Tiap petani mendapatkan sebidang petak tanah tidak lebih sekitar 1000 meter yang secara khusus diperuntukan untuk dikelola baik sebagai tempat tinggal maupun kembali membudidayakan ikan.

Namun, 1000 meter tanah yang diberikan ke warga bukan secara cuma-cuma. Tanah tersebut sifatnya sewa kepada Pemda DKI. Dalam setahun, warga diwajibkan membayar sekitar Rp 600 ribu.

"Dulu kita cuma diberi tanah kosong aja dan itu pun sewa. Sehingga tidak semua petani yang kena gusuran di Kuningan mau pindah tinggal di Komplek ini karena butuh modal gede. Padahal dulu jumlah petani ikan itu banyak sekali," pak Soheh.

Secara umum, jenis ikan yang dibudidayakan di komplek perikanan DKI adalah jenis ikan hias. Ada tiga jenis ikan hias yang paling banyak dibudidayakan yakni ikan mas koki, dari jenis kepala singa, rancu, mata balon, celestia, butterfly, panda, oranda, sampai mutiara. Kemudian ikan mainfish dari jenis black dan serigala, serta ikan cupang dengan jenis biasa dan atmon.

"Tiap warga paling sedikit punya 10 kolam tempat budidaya ikan. Itu bisa menghasilkan ribuan ikan hias baik dari usia bayi misal satu bulan sampai yang sudah indukan," jelas Saipunnizar, salah satu petani di komplek perikanan Ciganjur.

Dengan sekian banyak jumlah ikan hias yang dihasilkan, tidak salah jika tempat ini menjadi referensi sejumlah pedagang ikan hias dari Jabodetabek bahkan sampai luar kota. "Pembeli banyak dari pedagang pasar eks Barito, Jatinegara, Radio Dalam. Selain itu juga ada datang dari Jawa dan Sumatera yang datang ke sini baik pedagang atau para pehobbi," tutur Saipun.

Salah satu pedagang ikan hias eks pasar Barito, Anto saat ditemui Kontan di komplek perikanan DKI Ciganjur mengatakan bahwa dirinya dalam satu minggu dua atau tiga hari selalu belanja ikan di kompleks. "Sekali beli dua atau tiga ekor ikan mas koki yang udah jadi. Itu nilainya bisa Rp 100 ribu satu ekornya," jelasnya.